Distribusi Makanan Jadi Fokus Utama
25 Jan 2010
Hampir dua pekan setelah gempa, ribuan warga masih belum menerima bantuan makanan dan obat-obatan
Heryadi Sarodji
SEIRING dengan penghentian proses pencarian korban gempa yang tertimbun sejak Sabtu (23 /1), tim pekerja bantuan internasional kini lebih fokus untuk mempercepat pengiriman makanan, air, dan obat-obatan bagi warga yang selamat. Percepatan pengiriman dilakukan karena setelah 12 hari berlalu, ribuan korban gempa masih belum menerima bantuan.
Warga Haiti yang kehilangan rumah sebagian besar tinggal di tenda-tenda darurat yang kotor di seluruh penjuru Port-au-Prince, ibu kota Haiti. Mereka mengeluh belum juga menerima bantuan.Kepala Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAid) RajivShah mengatakan organisasinya akan berjuang sekuat tenaga di tengah kondisi yang sulit.
"Skala kehancuran dan konsekuensi kemanusiaan sangat tidak sejalan. Kami tidak dapat memenuhi kebutuhan secepatnya / ujarnya kepada Reuters. "Kami akan memberikan bantuan di sini untuk waktu yang lama."Menurut keterangan pemerintah Haiti, gempa bumi berkekuatan 7,0 pada skala Richter Selasa (12/1) menewaskan 200 ribu orang dan membuat 3 juta warga terluka dan kehilangan tempat tinggal.
Meski operasi pencarian dan penyelamatan secara resmi sudah dihentikan, beberapa tim penyelamat masih menyisir reruntuhan di ibu kota. Upaya mereka tidak sia-sia setelah akhirnya mereka berhasil mengeluarkan seorang pria hidup-hidup dari Hotel Napoli Inn di Port-au-Prince meski sudah terkubur 11 hari.Dia menjadi orang terakhir dari 130 orang yang berhasil dikeluarkan hidup-hidup dari balik reruntuhan oleh tim penyelamat internasional.
Distribusi makanan
Selain tantangan logistik, keamanan operasi distribusi bantuan menjadi tantangan besar bagi tim internasional. Untuk itu, penjaga perdamaian PBB asal Brasil dan tentara AS kemarin dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan di kawasan kumuh Cite Soleil.
Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan bantuan telah mencapai dua pertiga kamp pengungsian warga. Kacaunya distribusi makanan juga membuat warga melampiaskan kekesalan kepada Presiden Rene Preval. Rene diserang sejumlah orang seusai menghadiri pemakaman Uskup Agung Katolik Joseph Serge Miot yang tewas tertimbun reruntuhan. Banyak warga juga memaki dan memintanya mundur.
Di tengah keputusasaan warga, tanda-tanda kehidupan mulai kembali terlihat di Negeri Karibia itu, Sabtu (23/1). Ratusan warga Haiti terlihat antre di luar sejumlah bank yang mulai buka kembali di ibu kota Port-au-Prince, untuk menarik uang kontan guna membeli makanan dan kebutuhan.
"Tidak ada pekerjaan. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi selanjutnya," ujar Myrtho Larco, yang berprofesi sebagai guru.Buah-buahan dan sayur-mayur juga mulai terlihat berlimpah dijual di jalan-jalan. Namun, warga mengatakan mereka tidak punya uang untuk membelinya. (1-1)
heryadi @mediaindonesia.com
Heryadi Sarodji
SEIRING dengan penghentian proses pencarian korban gempa yang tertimbun sejak Sabtu (23 /1), tim pekerja bantuan internasional kini lebih fokus untuk mempercepat pengiriman makanan, air, dan obat-obatan bagi warga yang selamat. Percepatan pengiriman dilakukan karena setelah 12 hari berlalu, ribuan korban gempa masih belum menerima bantuan.
Warga Haiti yang kehilangan rumah sebagian besar tinggal di tenda-tenda darurat yang kotor di seluruh penjuru Port-au-Prince, ibu kota Haiti. Mereka mengeluh belum juga menerima bantuan.Kepala Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAid) RajivShah mengatakan organisasinya akan berjuang sekuat tenaga di tengah kondisi yang sulit.
"Skala kehancuran dan konsekuensi kemanusiaan sangat tidak sejalan. Kami tidak dapat memenuhi kebutuhan secepatnya / ujarnya kepada Reuters. "Kami akan memberikan bantuan di sini untuk waktu yang lama."Menurut keterangan pemerintah Haiti, gempa bumi berkekuatan 7,0 pada skala Richter Selasa (12/1) menewaskan 200 ribu orang dan membuat 3 juta warga terluka dan kehilangan tempat tinggal.
Meski operasi pencarian dan penyelamatan secara resmi sudah dihentikan, beberapa tim penyelamat masih menyisir reruntuhan di ibu kota. Upaya mereka tidak sia-sia setelah akhirnya mereka berhasil mengeluarkan seorang pria hidup-hidup dari Hotel Napoli Inn di Port-au-Prince meski sudah terkubur 11 hari.Dia menjadi orang terakhir dari 130 orang yang berhasil dikeluarkan hidup-hidup dari balik reruntuhan oleh tim penyelamat internasional.
Distribusi makanan
Selain tantangan logistik, keamanan operasi distribusi bantuan menjadi tantangan besar bagi tim internasional. Untuk itu, penjaga perdamaian PBB asal Brasil dan tentara AS kemarin dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan di kawasan kumuh Cite Soleil.
Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan bantuan telah mencapai dua pertiga kamp pengungsian warga. Kacaunya distribusi makanan juga membuat warga melampiaskan kekesalan kepada Presiden Rene Preval. Rene diserang sejumlah orang seusai menghadiri pemakaman Uskup Agung Katolik Joseph Serge Miot yang tewas tertimbun reruntuhan. Banyak warga juga memaki dan memintanya mundur.
Di tengah keputusasaan warga, tanda-tanda kehidupan mulai kembali terlihat di Negeri Karibia itu, Sabtu (23/1). Ratusan warga Haiti terlihat antre di luar sejumlah bank yang mulai buka kembali di ibu kota Port-au-Prince, untuk menarik uang kontan guna membeli makanan dan kebutuhan.
"Tidak ada pekerjaan. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi selanjutnya," ujar Myrtho Larco, yang berprofesi sebagai guru.Buah-buahan dan sayur-mayur juga mulai terlihat berlimpah dijual di jalan-jalan. Namun, warga mengatakan mereka tidak punya uang untuk membelinya. (1-1)
heryadi @mediaindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar