Sabtu, 09 Oktober 2010

NAOMI SUSAN

Usianya belum 35 tahun, tapi perjalanan karier Naomi Susan melampui banyak perempuan seusia itu. Sejak 1997 ia adalah pemegang saham/investor aktif/pemilik Ovis Group. Ia menjadi direktur di tujuh perusahaan dari sekitar sembilan bidang usaha di Ovis Group.
Sebuah majalah ekonomi menempatkannya sebagai seorang dari 20 pengusaha sukses di bawah usia 35 tahun di Indonesia. Namanya juga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembeli pertama komputer notebook berlapis emas dan bertahtakan berlian.
Semua itu tak ia gapai dalam sekali mendayung. Saat mulai terjun di dunia bisnis, perempuan kelahiran Medan, 15 Januari 1975, ini justru tidak menemukan manisnya dunia usaha. Kala itu, 1996 --di usia 21 tahun-- ia terjun ke lantai bursa, memainkan tabungan dari penghasilannya sebagai account executive sebuah perusahaan periklanan. Kalah di lantai bursa, tabungannya tergerus.
''Saya sempat trauma. Saya kapok. Saya boleh dibilang babak belur, dalam artian saya tidak mau lagi kerja pakai uang sendiri. Saya dulu bekerja sama orang, setiap bulan terima gaji. Aman. Sementara, memainkan uang sendiri ternyata uang saya yang kena. Setiap bulan tidak dapat gaji, malah habis,'' ujar perempuan yang pada Agusus 2005 dinobatkan sebagai Simbol Prestasi Disiplin 2005.
Lulusan Marketing Communication, University of Portland, Oregon, Amerika Serikat, ini lalu memutuskan melanjutkan studi di Australia. Sambil menunggu proses pengurusan surat-surat, ia melamar ke PT Ovis Utama, perusahaan jaringan diskon di bidang restiran dan kafe. Lamarannya sempat ditolak, karena ia dinilai over qualified untuk posisi yang dilamarnya. Sebulan berselang, ia dipanggil mengisi posisi public relations.
Saat perusahaan ini terpilih memegang master franchise dari Card Connection International, pimpinan perusahaan menawari Naomi menjadi pemegang saham. Trauma peristiwa sebelumnya, tawaran itu tidak segera ia terima. Setelah diyakinkan dan diberikan fleksibilitas risiko kerugian, ia baru mengangguk. Naomi membeli saham dan menjadi direktur.
Ternyata, dalam perjalanan waktu, 1997, krisis moneter menghadang. Kemampuannya diuji. Perusahaan yang dipimpinnya menerapkan strategi dengan memberikan fasilitas gratis untuk keluar dari krisis. Strategi itu cukup jitu. Sukses Card Connection membawa Naomi menjadi pebisnis tangguh yang memberinya berbagai penghargaan. Perusahaannya melebar, merambah ke bidang restoran, kafe, jual beli properti, sampai pesawat carter.
Saat ini, Naomi masih harus menyisihkan waktunya untuk menyelesaikan pembuatan buku berjudul Be Negative. ''Konsepnya menjual segala jenis kegagalan, dengan pesan yang terkandung adalah memberikan memotivasi, inspirasi, dan setiap orang memiliki hak untuk sukses,'' ujar dia.
Di sela-sela kesibukannya yang padat, Naomi Susan menerima Burhanuddin Bella dari Republika bersama fotografer Yogi Ardhy untuk wawancara di ruang kerjanya di bilangan Jl S Parman, Jakarta. Ia tak hanya mengisahkan perjalanan kariernya, tapi juga mimpi-mimpinya. ''Yang jelas, mimpi dalam waktu dekat ini, saya mau memiliki pasangan hidup,'' ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

http://naomi-susan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar